Gresik, 25 September 2026 — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik terus memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pengetahuan, literasi, sejarah, dan kebudayaan. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Evaluasi dan Koordinasi Layanan Budaya yang dilaksanakan pada Jumat (25/9/2026) di Ruang Preservasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik.
Rapat tersebut dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik, Budi Rahardjo, S.H., M.Sos., serta Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Gresik, Sudadi, S.E., M.M. dan Jamiyatul Mukaromah, S.Pd.I.
Dalam rapat, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik Budi Rahardjo menyampaikan berbagai upaya pengembangan literasi yang terhubung dengan bahasa dan budaya daerah. Salah satunya melalui kerja sama dengan MGMP Bahasa Daerah dalam pengembangan kegiatan literasi berbasis budaya, termasuk rencana kegiatan dongeng berbahasa Jawa dan lomba resensi buku yang akan dilaksanakan pada November mendatang.
Upaya pelestarian budaya juga dilakukan melalui kerja sama dengan Manassa dalam penyelenggaraan kelas menulis aksara Jawa. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkenalkan dan meningkatkan kemampuan generasi muda dalam mengenal serta menggunakan aksara Jawa sebagai bagian dari warisan budaya.
Selain itu, DISPUSIP Gresik turut memfasilitasi penerbitan buku mengenai Pencak Macan, salah satu kesenian tradisional Gresik. Dokumentasi dalam bentuk buku tersebut diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya pelestarian kesenian lokal.
Pengembangan cerita rakyat dan folklor Gresik juga menjadi perhatian dalam rapat. Berbagai cerita rakyat, kesenian, tradisi, dan kekayaan budaya lokal dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan literasi, edukasi, maupun konten budaya yang menarik bagi masyarakat.
Dalam pengembangan literasi berbasis seni dan budaya, DISPUSIP Gresik juga melihat berbagai praktik yang telah dilakukan di daerah lain sebagai referensi. Salah satunya adalah pengembangan muatan lokal Remo di Surabaya melalui penerbitan buku dan pelatihan tari. Di Gresik, kesenian seperti Pencak Macan dinilai masih memerlukan dokumentasi dan kajian lebih lanjut, termasuk mengenai pakem serta berbagai simbol dan metafora yang terkandung di dalamnya.
Pada aspek sejarah, DISPUSIP Gresik memperoleh dukungan untuk melakukan penelusuran Babad Gresik yang tersimpan di Museum Radya Pustaka. Kegiatan tersebut direncanakan pada Desember mendatang dengan dukungan Manassa dan Komisi IV DPRD Kabupaten Gresik. Penelusuran sumber sejarah juga akan dilakukan terhadap koleksi arsip di Leiden dengan menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan Gresik. Langkah ini diharapkan dapat memperkaya sumber informasi dan dokumentasi mengenai sejarah Gresik.
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Gresik Sudadi menekankan bahwa setiap program perpustakaan diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas membaca, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan edukatif, kreatif, dan produktif yang meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat.
Konsep tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan praktis, seperti pelatihan keterampilan dan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan literasi juga diharapkan dapat menjangkau berbagai kelompok masyarakat, termasuk ibu-ibu, melalui pengembangan layanan perpustakaan keliling dan kegiatan berbasis kebutuhan masyarakat.
Sudadi juga menyampaikan dukungan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan pemerhati naskah kuno serta membuka ruang bagi DISPUSIP Gresik untuk menyampaikan berbagai usulan program dan kebutuhan kepada DPRD. Selain itu, rencana pembangunan depo arsip diharapkan dapat terus dilanjutkan untuk mendukung penyimpanan dan pengelolaan arsip daerah.
Pengembangan fasilitas dan kegiatan kreatif seperti mini teater, workshop, serta pemanfaatan bahan daur ulang juga dapat menjadi alternatif inovasi layanan perpustakaan. Selain itu, penelitian terhadap tulisan dan informasi pada batu nisan Poesponegoro dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menggali sumber sejarah lokal Gresik.
Kesenian lokal juga mendapat perhatian, salah satunya Kuda Kincak di wilayah Balongpanggang. Kesenian yang masih melibatkan generasi muda tersebut dinilai perlu mendapatkan perhatian dalam hal keberlanjutan dan pengembangan, termasuk dari sisi apresiasi terhadap para pelaku seni.
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Gresik Jamiyatul Mukaromah menambahkan bahwa perpustakaan perlu terus dikembangkan sebagai pusat pengetahuan dan budaya, bukan hanya sebagai tempat penyimpanan buku. Masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan perpustakaan untuk memperoleh pengetahuan sekaligus mengenal sejarah dan budaya Gresik.
Sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dan erat dengan perkembangan Islam serta keberadaan para wali, Gresik memiliki kekayaan sejarah dan budaya keagamaan yang perlu terus didokumentasikan dan diperkenalkan, khususnya kepada generasi muda.
Pengenalan sejarah dan budaya lokal kepada generasi muda menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan tingginya konsumsi konten digital. Melalui berbagai inovasi layanan dan kegiatan yang menarik, perpustakaan diharapkan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, budaya, dan identitas daerah secara lebih dekat.
Melalui rapat evaluasi dan koordinasi tersebut, DISPUSIP Gresik bersama DPRD Kabupaten Gresik mendorong penguatan layanan budaya yang mengintegrasikan literasi, sejarah, bahasa, seni, dan budaya lokal. Kolaborasi dengan sekolah, MGMP Bahasa Daerah, Manassa, komunitas budaya, serta berbagai pihak terkait akan terus dikembangkan untuk menghadirkan program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Penguatan layanan budaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan, melestarikan, dan memperkenalkan kekayaan sejarah serta budaya Gresik kepada masyarakat dan generasi penerus.





