Tragedi kelam pernah menyelimuti pendopo Kabupaten Gresik pada awal abad ke-19. Raden Adipati Ario Soerjoadiningrat, yang menjabat sebagai Bupati Gresik pada tahun 1903 hingga 1907, tewas dibunuh di area Pendopo Kabupaten oleh seseorang bersenjata perang. Penyerang tersebut diketahui sebagai orang suruhan Haji Boesro, tokoh yang merasa tersisih dalam proses pemilihan penghulu penjaga makam Sunan Giri—posisi yang sangat dihormati dalam tradisi keagamaan masyarakat Gresik. Ironisnya, sang anak, Raden Panji Ario Soerjowinoto II, juga diserang dalam peristiwa yang sama. Beruntung, ia berhasil menyelamatkan diri dengan cara bersembunyi di Kampung Pacinan selama beberapa hari, sebelum kemudian ditunjuk sebagai pengganti ayahnya menjabat sebagai bupati.
Kisah dramatis ini kembali mencuat dalam acara bedah buku yang diselenggarakan dalam rangka Peringatan Hari Buku Nasional 2025. Acara tersebut digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik pada tanggal 19 Mei 2025, bertempat di Gedung Nasional Indonesia, Gresik. Dalam kegiatan ini, penulis sekaligus peneliti sejarah lokal, Eko Jarwanto, membedah karyanya yang berjudul Penguasa-Penguasa di Nagari Tandhes. Buku ini tak hanya menyuguhkan kisah tragis Bupati Soerjoadiningrat, tetapi juga membuka banyak catatan sejarah Gresik yang selama ini tak banyak diketahui publik.
.jpg)
Dalam paparan bukunya, Eko Jarwanto mengulas panjang perjalanan kepemimpinan Gresik. Dari era umbul atau penggede, yang menjadi struktur pemerintahan awal di masa pra-kolonial, lalu berlanjut ke masa bupati kasepuhan dan kanoman, memasuki era Kabupaten Surabaya, hingga akhirnya menjadi Kabupaten Gresik yang otonom sebagaimana yang ada saat ini. Narasi ini menunjukkan bagaimana sistem pemerintahan di Gresik mengalami transformasi yang kompleks, mencerminkan dinamika politik, sosial, dan budaya yang berkembang seiring waktu.
Menariknya, banyak nama tokoh bupati yang disebut dalam buku tersebut belum tercatat dalam pengetahuan umum masyarakat. Bahkan sebelum Bupati Kyai Tumenggung Poesponegoro—yang selama ini dianggap sebagai bupati pertama Gresik—ternyata sudah ada tokoh-tokoh penting yang lebih dahulu menjabat. Fakta ini memperkaya pemahaman kita tentang sejarah lokal dan mengoreksi narasi tunggal yang selama ini berkembang.
Informasi-informasi penting ini ternyata belum banyak ditemukan di mesin pencarian Google maupun dibahas di media sosial. Minimnya dokumentasi digital serta kurangnya perhatian terhadap sumber-sumber arsip menyebabkan kisah-kisah bersejarah ini nyaris terlupakan. Oleh karena itu, kehadiran buku Penguasa-Penguasa di Nagari Tandhes membawa angin segar bagi upaya pengungkapan sejarah lokal yang autentik.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan merawat arsip sejarah. Arsip bukan semata-mata urusan institusi pemerintah atau dinas kearsipan, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama masyarakat. Dari arsiplah berbagai peristiwa penting, seperti tragedi Raden Adipati Ario Soerjoadiningrat dapat diketahui, dipelajari, dan dijadikan pelajaran untuk masa depan.
Kegiatan bedah buku dalam peringatan Hari Buku Nasional 2025 ini membuktikan bahwa buku bukan hanya alat pendidikan, tetapi juga sarana penggalian memori kolektif bangsa. Diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik, acara ini tidak hanya memperluas wawasan literasi masyarakat, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya peran kearsipan dalam membuka gerbang terhadap peristiwa-peristiwa tersembunyi yang selama ini luput dari perhatian.
.jpg)



.jpg)
