Gresik, 9 Juli 2026 – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik menggelar Sosialisasi Pembentukan dan Pengembangan Perpustakaan Desa/Kelurahan pada Kamis (9/7) di Ruang Preservasi Lantai 2 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan desa dan kelurahan yang belum memiliki perpustakaan desa/kelurahan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik, Budi Raharjo, S.H., M.Sos., membuka kegiatan sekaligus menyampaikan arah kebijakan pengembangan perpustakaan desa. Sosialisasi tersebut juga menghadirkan Dosen Ilmu Perpustakaan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Bambang Prakoso, S.Sos., M.IP., sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Budi Raharjo menjelaskan bahwa pembentukan perpustakaan desa merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas literasi masyarakat. Sejak tahun 2024, Menteri Desa bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI telah menghimbau pemerintah desa untuk membentuk perpustakaan desa yang memiliki Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) dan terakreditasi. Selain menjadi salah satu indikator yang dipantau pemerintah pusat, keberadaan perpustakaan desa juga diharapkan mampu meningkatkan nilai Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).
Namun, menurut Budi, fungsi perpustakaan desa saat ini tidak lagi terbatas sebagai tempat membaca. Perpustakaan desa memiliki peluang besar untuk menjadi job seeker hub, yaitu ruang yang menghubungkan pencari kerja dengan peluang kerja sekaligus meningkatkan kompetensi masyarakat desa.
"Perpustakaan desa dapat menjadi tempat pemetaan potensi sumber daya manusia desa, mulai dari data lulusan, keahlian, hingga minat masyarakat pencari kerja. Data tersebut kemudian dapat dipromosikan kepada perusahaan sehingga mempertemukan kebutuhan dunia kerja dengan potensi tenaga kerja yang dimiliki desa," jelasnya.
Selain itu, perpustakaan desa juga dapat memberikan layanan pendampingan penyusunan curriculum vitae (CV), menjadi tempat penyelenggaraan pelatihan peningkatan keterampilan, serta menjalin kolaborasi dengan Dinas Tenaga Kerja maupun instansi lainnya agar masyarakat memperoleh akses yang lebih luas terhadap informasi dan peluang kerja.
Budi juga menyoroti tingginya penetrasi internet di Jawa Timur yang belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk kegiatan produktif. Menurutnya, perpustakaan desa dapat menjadi ruang yang mengarahkan masyarakat agar memanfaatkan teknologi dan informasi untuk belajar, meningkatkan keterampilan, serta mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Sementara itu, Bambang Prakoso menegaskan bahwa perpustakaan desa tetap memiliki fungsi utama sebagai pusat literasi masyarakat. Mengacu pada konsep Ki Hadjar Dewantara, pendidikan yang baik dibangun melalui sinergi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam hal ini, perpustakaan desa menjadi wadah masyarakat untuk belajar sepanjang hayat.
Ia menambahkan, keterbatasan koleksi bukan menjadi penghalang bagi desa untuk mengembangkan perpustakaan. Desa dapat memanfaatkan layanan peminjaman koleksi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik maupun mengakses koleksi digital yang tersedia melalui perpustakaan kabupaten, perpustakaan provinsi, hingga Perpustakaan Nasional RI.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi. Agus Afandi, Sekretaris Desa Jaka Agung, Kecamatan Cerme, menanyakan strategi meningkatkan minat baca masyarakat serta solusi ketika anggaran pembentukan perpustakaan masih terbatas. Narasumber menyarankan agar desa memaksimalkan koleksi yang telah dimiliki, memanfaatkan layanan peminjaman buku, serta melibatkan Karang Taruna dalam berbagai kegiatan literasi agar perpustakaan lebih hidup dan dekat dengan masyarakat.
Sementara itu, Santi Eka Wati dari Desa Karangkidul, Kecamatan Benjeng, tertarik dengan konsep job seeker hub dan menanyakan langkah awal penerapannya di desa. Menanggapi hal tersebut, Budi Raharjo menjelaskan bahwa desa dapat memulai dengan memetakan latar belakang pendidikan, kompetensi, dan minat para pencari kerja. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk menyusun profil tenaga kerja desa, menghubungkannya dengan kebutuhan perusahaan, sekaligus menjadi dasar penyelenggaraan pelatihan bersama Dinas Tenaga Kerja maupun instansi terkait.
Melalui sosialisasi ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik berharap perpustakaan desa tidak hanya menjadi pusat literasi, tetapi juga berkembang sebagai ruang pemberdayaan masyarakat yang mampu meningkatkan kompetensi, memperluas akses informasi, dan menjadi jembatan antara pencari kerja dengan dunia usaha.


.jpg)


.jpg)