Gresik – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik menyelenggarakan Workshop Pengelolaan dan Pelayanan Perpustakaan Umum dan Khusus pada Rabu (22/7/2026) di Ruang Rapat Preservasi Lantai 2 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik. Kegiatan ini diikuti oleh 30 pengelola perpustakaan desa, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), perpustakaan rumah ibadah, dan perpustakaan pondok pesantren. Workshop ini bertujuan meningkatkan kompetensi para pengelola perpustakaan agar semakin memahami manajemen, pengelolaan, dan pelayanan perpustakaan sesuai dengan perkembangan zaman.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik, Budi Raharjo, S.H., M.Sos. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa nilai Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Kabupaten Gresik tahun 2025 masih stagnan dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun capaian tersebut masih berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi seluruh pengelola perpustakaan untuk terus berinovasi dalam menghadirkan layanan yang mampu meningkatkan minat baca masyarakat.
Budi Raharjo menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Telepon genggam yang dahulu hanya digunakan sebagai alat komunikasi kini telah berkembang menjadi perangkat multifungsi yang dapat digunakan untuk mencari informasi, berbelanja, bernavigasi, hingga memanfaatkan layanan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Di tengah pesatnya perkembangan teknologi tersebut, perpustakaan dituntut untuk terus bertransformasi agar tetap menjadi pusat informasi dan pembelajaran yang relevan bagi masyarakat.
Menurutnya, fungsi perpustakaan saat ini tidak lagi hanya sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi juga berkembang menjadi third place, yaitu ruang yang nyaman bagi masyarakat untuk belajar, berdiskusi, dan berkegiatan di luar rumah maupun tempat kerja. Perpustakaan juga berperan sebagai ruang kreatif dan inovatif yang dapat dimanfaatkan oleh komunitas, sekaligus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat melalui konsep Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Berbagai pelatihan keterampilan yang diselenggarakan perpustakaan diharapkan mampu meningkatkan kompetensi masyarakat, termasuk dalam mendukung kesiapan memasuki dunia kerja. Selain itu, transformasi digital juga terus dilakukan melalui penyediaan koleksi digital seperti iGresik dan Book E Gresik, sehingga masyarakat dapat mengakses bahan bacaan secara lebih mudah.
Materi pertama disampaikan oleh Sri Rahayu, S.Sos. dari Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) yang membahas pengelolaan teknis bahan pustaka. Dalam sesi ini, peserta mempelajari tahapan pengolahan buku yang meliputi pemberian stempel kepemilikan, inventarisasi dan pencatatan nomor induk, katalogisasi, klasifikasi, kelengkapan administrasi buku, hingga penyusunan koleksi di rak (shelving). Peserta juga mengikuti praktik klasifikasi koleksi dan berdiskusi mengenai pemanfaatan teknologi AI dalam membantu proses klasifikasi. Narasumber menegaskan bahwa penggunaan AI diperbolehkan sebagai alat bantu, namun hasil klasifikasi tetap harus diverifikasi menggunakan e-Class agar sesuai dengan standar pengelolaan perpustakaan.
Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Suhernik, S.Sos., M.Si. dari Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) dengan tema Strategi Pengelolaan, Manajemen, dan Pelayanan Perpustakaan Umum dan Khusus Secara Efektif. Materi tersebut membahas pentingnya pengelolaan perpustakaan yang mengacu pada standar nasional melalui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi yang berkelanjutan. Selain itu, narasumber menjelaskan berbagai komponen penyelenggaraan perpustakaan, mulai dari pengembangan koleksi, sarana dan prasarana, pelayanan, tenaga perpustakaan, pengelolaan kelembagaan, hingga inovasi layanan yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Suhernik juga menekankan bahwa perpustakaan modern tidak hanya berorientasi pada layanan peminjaman buku, tetapi juga harus menghadirkan layanan yang inklusif, ramah anak dan penyandang disabilitas, menyediakan ruang kolaborasi bagi komunitas, serta menyelenggarakan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, penerapan sistem otomasi perpustakaan melalui aplikasi seperti INLISLite menjadi salah satu upaya meningkatkan efektivitas pengelolaan koleksi dan pelayanan kepada pemustaka, sekaligus memperluas akses informasi melalui katalog daring (OPAC).
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi. Para peserta mengajukan berbagai pertanyaan yang langsung dijawab oleh narasumber, di antaranya mengenai penggunaan aplikasi INLISLite yang dapat dioperasikan secara online maupun offline (intranet), penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam memberikan pelayanan kepada pemustaka, khususnya saat menegur pengunjung agar tetap santun dan tidak menyinggung perasaan pemustaka, contoh perpustakaan khusus yang telah berkembang di Kabupaten Gresik seperti TBM Rumah Pelangi dan TBM Cinta, serta layanan perpustakaan umum yang pada dasarnya dapat diakses masyarakat secara gratis, kecuali perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi yang memiliki ketentuan tersendiri.
Melalui workshop ini diharapkan para pengelola perpustakaan desa, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), perpustakaan rumah ibadah, dan perpustakaan pondok pesantren semakin memahami prinsip-prinsip pengelolaan dan pelayanan perpustakaan sesuai standar, sehingga mampu menghadirkan layanan perpustakaan yang inovatif, inklusif, serta mampu menjawab kebutuhan informasi dan pembelajaran masyarakat.
.jpg)

.jpg)


